Sinergi Ulama dan Intelektual untuk Menerangi Jalan Umat

Dr. H. Nur Kholis, M.Ag., Penceramah Tarawih RDK 1447 H Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Mawar)
Rabu, 18 Februari 2026, Dr. H. Nur Kholis, M.Ag. menyampaikan ceramah Tarawih di Masjid Islamic Center dalam rangkaian kegiatan Ramadan di kampus (RDK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dalam tausiah yang mengangkat tema “Ulama dan Intelektual: Sinergi Keilmuan untuk Solusi Masalah Keumatan”, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan kalangan intelektual demi menghadirkan solusi yang utuh bagi umat.
Mengawali ceramahnya, beliau mengajak jemaah membayangkan kehidupan seperti berjalan di dalam gua yang gelap gulita. Dalam kondisi tersebut, manusia membutuhkan dua hal agar selamat sampai tujuan, yakni lentera untuk menerangi jalan dan kompas untuk menunjukkan arah yang benar. Analogi ini kemudian dikaitkan dengan kehidupan umat Islam yang memerlukan dua “lentera”, yaitu agama dan ilmu pengetahuan.
Menurut Dr. Nur Kholis, lentera pertama adalah agama yang dijaga oleh para ulama. Ulama, sebagaimana disebutkan dalam hadis “Innal ulama warasatul anbiya”, merupakan pewaris para nabi. Warisan yang dimaksud bukanlah harta, melainkan ilmu dan tanggung jawab membimbing umat dalam membedakan yang benar dan salah, halal dan haram. Namun, beliau menegaskan bahwa ukuran ulama bukan semata-mata kemampuan berbicara atau banyaknya hafalan dalil, melainkan rasa takut kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Fatir ayat 28, hanya para ulama yang benar-benar takut kepada-Nya. Ilmu yang dimiliki seharusnya membuat seseorang semakin dekat dan tawaduk kepada Allah, bukan sebaliknya.
Lentera kedua adalah ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para intelektual. Menurutnya, intelektual dalam Islam bukanlah sosok yang jauh dari agama, melainkan para ahli di berbagai bidang seperti kedokteran, teknik, ekonomi, pendidikan, pertanian, dan astronomi. Mereka mempelajari alam semesta sebagai bagian dari ayat-ayat kauniah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di langit dan bumi. Dalam Surah Ali Imran ayat 18, Allah menyandingkan orang-orang berilmu bersama para malaikat sebagai saksi atas keesaan-Nya. Hal ini menunjukkan kedudukan istimewa orang berilmu di sisi Allah.
Ia kemudian mencontohkan persoalan penentuan awal Ramadan sebagai gambaran pentingnya sinergi ulama dan intelektual. Jika hanya ulama yang berbicara tanpa dukungan data ilmiah, umat bisa kebingungan dalam memahami detail astronomi terkait rukyat dan hisab. Sebaliknya, jika hanya ilmuwan yang berbicara tanpa landasan fikih dan dalil syar’i, masyarakat akan mempertanyakan keabsahan keputusan tersebut dari sisi agama.
Oleh karena itu, sinergi menjadi kunci. Ulama membawa dalil dan kaidah fikih, sementara intelektual menghadirkan data serta perhitungan ilmiah. Kolaborasi ini dapat melahirkan keputusan yang kuat secara syariat sekaligus akurat secara sains, seperti upaya penyatuan kalender Hijriah global. Dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11 disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat, yang menunjukkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan beriringan.
Di akhir ceramah, Dr. Nur Kholis mengajak jemaah untuk berperan aktif dalam mendukung sinergi tersebut. Pertama, mendoakan para ulama dan intelektual agar senantiasa diberi petunjuk dan keikhlasan. Kedua, mendukung upaya persatuan umat dengan lapang dada. Ketiga, menjadi jembatan informasi dengan menyampaikan pemahaman yang benar kepada keluarga dan masyarakat.
Beliau menutup tausiah dengan harapan agar Allah Swt. senantiasa menyatukan hati para ulama dan intelektual serta memberikan kekuatan kepada seluruh umat untuk mendukung kebaikan bersama. Sinergi keduanya, tegas beliau, merupakan keniscayaan demi menghadirkan solusi besar bagi umat Islam. (Mawar)
