Pengajian Ramadan PWA DIY Bahas Etika Lingkungan Berbasis Keimanan

Pengajian PWA DIY di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta berlangsung pada 18–19 Ramadan 1447 H atau 7–8 Maret 2026 di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kegiatan tersebut mengusung tema “Etika Lingkungan dalam Perspektif Keimanan: Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan.”
Dalam sambutannya, Rektor UAD Prof. Dr. Muchlas, M.T. menekankan pentingnya kesadaran menjaga kelestarian bumi sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ia mengingatkan bahwa bumi yang menjadi tempat manusia beramal perlu dirawat dengan sebaik-baiknya.
“Bumi yang sudah cukup tua ini harus kita rawat dengan sebaik-baiknya, karena di sinilah kita menyemai semua pahala dan aktivitas amal saleh kita,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam organisasi dan gerakan dakwah merupakan bentuk nyata menjalankan peran sebagai khalifah yang memakmurkan bumi. Menurutnya, aktivitas mengelola organisasi dan memperhatikan umat merupakan bagian dari ikhtiar memajukan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Widiastuti, S.Ag., M.M., menyampaikan bahwa tema merawat bumi sangat dekat dengan peran perempuan. Ia menjelaskan bahwa nilai merawat tidak hanya berlaku dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan lingkungan.
“Merawat itu lekat dengan perempuan sebagai ibu. Tidak hanya merawat anak-anak biologis, tetapi juga merawat anak-anak sosial di sekitar kita melalui berbagai aktivitas dakwah,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada gerakan sosial yang berdampak bagi masyarakat. Hal tersebut terinspirasi dari ajaran Ahmad Dahlan yang menekankan pentingnya implementasi ajaran Islam dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, spirit gerakan sosial tersebut tercermin dalam pemaknaan surah Al-Ma’un yang menekankan kepedulian terhadap kaum lemah serta Al-‘Asr yang mengajarkan pentingnya kedisiplinan dan profesionalisme dalam mengelola amal usaha.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak anggota ‘Aisyiyah untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki, termasuk pemanfaatan lahan wakaf yang belum dikelola secara maksimal. Salah satunya dengan mengembangkan kegiatan produktif seperti gerakan penghijauan dan pembentukan kelompok perempuan tani.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah DIY baru saja menerima wakaf berupa tiga kapling rumah yang direncanakan untuk pembangunan rumah lansia. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk dakwah sosial dalam merespons meningkatnya jumlah lansia di Yogyakarta.
Ia menegaskan bahwa ‘Aisyiyah memiliki komitmen dalam gerakan perempuan berkemajuan, termasuk pada aspek filantropi dan pelestarian lingkungan. Karena itu, pada tahun 2026 organisasi tersebut mengusung tagline “Berdaya, Bergerak, dan Berdampak.”
“Berdaya secara spiritual berarti memiliki keimanan dan ketakwaan yang terus ditingkatkan. Pengajian seperti hari ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat hal tersebut,” tuturnya.
Melalui pengajian Ramadan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan serta menguatkan peran perempuan dalam dakwah yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. (Dnd)
