Kaderisasi Umat: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Berintegritas dan Berkompetensi

Ceramah Tarawih Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada rangkaian RDK 1447 H (Foto. Dinda)
Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar kajian dan salat tarawih berjemaah dalam rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 1447 H pada Rabu, 4 Maret 2026. Kajian tersebut menghadirkan Dr. Mhd. Lailan Arqam, M.Pd. yang menyampaikan tausiah bertema “Kaderisasi Umat: Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Berintegritas dan Berkompetensi.”
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kaderisasi kerap dipahami secara sempit sebagai persoalan organisasi semata. Padahal, menurutnya, kaderisasi memiliki dimensi yang jauh lebih luas karena berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan.
“Saya diminta berbicara tentang kaderisasi umat. Tema ini menarik, tetapi sering kali orang menyempitkan makna kaderisasi hanya sebagai persoalan organisasi. Padahal kaderisasi juga merupakan problem epistemologis, sosiologis, teologis, hingga psikologis,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa dalam perspektif Islam, konsep kaderisasi dapat dipahami melalui ayat Al-Qur’an yang menjelaskan dialog antara Allah Swt. dan malaikat tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa manusia memiliki peran penting dalam memakmurkan bumi dan menjalankan nilai-nilai kebaikan.
Menurutnya, konsep khalifah fil ardh menjadi dasar penting dalam memahami regenerasi kepemimpinan. Manusia diciptakan sebagai generasi yang saling menggantikan serta memiliki tanggung jawab untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan di dunia.
“Dalam tafsir dijelaskan bahwa khalifah adalah generasi yang saling menggantikan dan berperan untuk menegakkan hukum Allah serta memakmurkan bumi. Inilah yang menjadi dasar bahwa kaderisasi merupakan proses regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa peran khalifah tidak hanya dimiliki oleh pemimpin formal seperti presiden, gubernur, atau wali kota. Setiap individu sejatinya memiliki tanggung jawab sebagai khalifah dalam kehidupan sehari-hari.
“Khalifah tidak hanya mereka yang memiliki jabatan tertentu. Sejatinya setiap individu adalah pemeran khalifah di muka bumi ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa profil kader yang unggul setidaknya memiliki dua karakter utama, yakni tauhid yang lurus dan kompetensi profesional. Tauhid menjadi fondasi utama yang mengarahkan seseorang untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang diridai Allah Swt.
“Profil kader yang paling dasar adalah memiliki tauhid yang lurus. Kita sadar betul dari mana kita berasal, ke mana tujuan kita, dan dengan cara apa kita menjalani kehidupan,” tuturnya.
Selain itu, kader juga harus memiliki kompetensi yang unggul dan profesionalitas agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, profesionalitas yang dilandasi oleh nilai tauhid akan mendorong seseorang untuk bekerja secara optimal demi kemaslahatan bersama.
“Kader yang baik adalah mereka yang memiliki kompetensi unggul dan profesional. Kompetensi itu kemudian digunakan untuk membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” katanya.
Di akhir tausiah, ia mengajak seluruh jemaah untuk memahami pentingnya kaderisasi dalam berbagai peran kehidupan, baik sebagai orang tua, pendidik, maupun anggota masyarakat. Dengan demikian, setiap individu dapat berkontribusi dalam melahirkan generasi yang berintegritas, berkompetensi, dan berkemajuan di masa depan. (Dnd)
