Kolaborasi Wujudkan Kampung Bebas Stunting

Tim PKM Universitas Ahmad Dahlan (UAD) adakan program kampung bebas stunting bersama berbagai elemen dan PRA Timbulharjo (Foto. Tim PKM UAD)
Masjid At-Taufiq menjadi titik awal gerakan pencegahan stunting berbasis komunitas yang digelar pada Sabtu dan Minggu (18–19 April 2026). Kegiatan bertajuk “Dari Masjid untuk Generasi Sehat: Wujudkan Kampung Bebas Stunting” ini merupakan hasil kolaborasi tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan berbagai elemen masyarakat bersama Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Timbulharjo.
Sebanyak 25 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, terdiri atas takmir masjid, kader posyandu, perwakilan PRA, serta guru TK dan SD. Panitia menyebut keterlibatan lintas elemen ini sebagai kekuatan utama dalam membangun sinergi pencegahan stunting dari tingkat akar rumput.
Pada sesi pembukaan, ditekankan bahwa peran masjid tidak hanya terbatas sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pemberdayaan, dan transformasi sosial. Pendekatan berbasis masjid dinilai efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat.
Dalam sesi pertama, Erni Gustina menjelaskan bahwa stunting tidak semata disebabkan oleh kekurangan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh yang kurang optimal. Ia menegaskan pentingnya pengasuhan responsif serta pemenuhan nutrisi sejak masa kehamilan.
“Pola asuh yang tepat menjadi fondasi utama dalam mencegah stunting. Peran keluarga, baik ayah maupun ibu, sangat krusial dalam memastikan anak mendapatkan asupan gizi dan perhatian yang cukup,” ujarnya.
Selanjutnya, Liena Sofiana memaparkan pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia menyoroti periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai masa emas yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak.
“Perubahan perilaku menjadi kunci. Edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga mampu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Rangkaian materi ditutup oleh Yuniar Wardani yang menegaskan peran strategis masjid serta amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah, mulai dari pengajian, klinik, hingga posyandu sebagai ujung tombak intervensi gizi dan edukasi kesehatan.
“Dari masjid, kita bisa membangun kesadaran kolektif untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting,” tegasnya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan berbagi pengalaman. Melalui forum ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara tokoh agama, tenaga pendidik, dan kader kesehatan dalam mewujudkan kampung bebas stunting secara berkelanjutan. (Doc)
