Dosen PGSD UAD Paparkan Etika Bermedia Sosial untuk Hindari Perundungan Siber

Dosen PGSD Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Patria Handung Jaya jadi pemateri kuliah umum Bahasa Indonesia di UAJY (Foto. Handung)
Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Patria Handung Jaya, S.Pd., M.A., menjadi pemateri dalam kuliah umum Bahasa Indonesia yang berlangsung di Aula Kampus 4 Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 20 Mei 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 300 mahasiswa dan mengangkat tema kehati-hatian serta etika bermedia sosial bagi generasi muda kampus.
Dalam pemaparannya, Handung menjelaskan bahwa media sosial membawa dampak besar terhadap kehidupan mahasiswa dan remaja. Menurutnya, media sosial tidak hanya memberikan manfaat dalam komunikasi, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan mental pengguna muda.
“Pengguna media sosial perlu menerapkan kehati-hatian serta etika dalam aktivitas digital agar komunikasi di ruang maya tetap sehat dan positif,” ujarnya.
Handung juga menyoroti fenomena mahasiswa yang memiliki lebih dari satu akun media sosial pribadi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan krisis identitas karena banyak pengguna menampilkan karakter yang berbeda pada setiap akun media sosial.
Selain membahas krisis identitas, ia turut mengingatkan bahaya cyberbullying yang kerap muncul melalui komentar kasar, hinaan, maupun candaan berlebihan di berbagai platform media sosial. Ia menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang santun dan penuh empati selama berkomunikasi di ruang digital.
Suasana kuliah umum berlangsung interaktif sejak awal hingga akhir kegiatan. Para mahasiswa aktif menyampaikan pengalaman pribadi mengenai penggunaan media sosial dalam kehidupan perkuliahan sehari-hari sehingga diskusi berkembang dinamis.
Menjelang akhir kegiatan, Handung memberikan latihan kepada peserta berupa unggahan media sosial yang berpotensi memunculkan komentar bullying. Peserta kemudian diminta menuliskan komentar yang lucu, kreatif, dan santun tanpa unsur hinaan maupun perundungan pribadi.
Dengan adanya kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya etika bermedia sosial serta mampu membangun komunikasi digital yang santun, bijak, dan terhindar dari perilaku perundungan siber.
