IMM FTI UAD Gelar Studium Generale DAD 2026, Siapkan Kader Adaptif di Era Disrupsi

IMM FTI Universitas Ahmad Dahlan (UAD) gelar studium generale DAD 2026 (Foto. IMM FTI UAD)
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menyelenggarakan acara Pembukaan sekaligus Studium Generale Darul Arqam Dasar (DAD) pada Kamis, 18 Juni 2026. Kegiatan perkaderan yang dilangsungkan di Aula Islamic Center, Kampus IV UAD ini mengusung tema “Instalasi Ideologi Ikatan: Menghidupkan Langkah Perkaderan yang Adaptif di Era Disrupsi”.
Kegiatan diawali dengan serangkaian sambutan. Sambutan tersebut disampaikan oleh Ketua Pelaksana Dhiva Anindya Untsa Layalya, Ketua Umum IMM FTI UAD Fathir Mahib, Ketua Koordinator Komisariat IMM UAD Muhammad Akrom Firdaus, serta Ketua Pimpinan Cabang Djazman Al-Kindi Ilham Jul Aiman S.Kom.. Turut hadir dan memberikan arahan yakni Pembina IMM FTI UAD Jefree Fahana, S.T., M.Kom. Usai prosesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan penyerahan peserta DAD secara simbolis kepada instruktur.
Memasuki sesi inti, Studium Generale dipandu oleh Irayya Jalu Insani Azrie selaku moderator. Materi utama dipaparkan secara komprehensif oleh Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Elektro sekaligus Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD, Prof. Ir. Anton Yudhana, S.T., M.T., Ph.D.
Dalam paparannya, ia menyoroti krisis identitas yang dialami oleh generasi mahasiswa saat ini di tengah pusaran disrupsi kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan budaya instan. Prof. Anton menegaskan bahwa ideologi Ikatan harus berfungsi sebagai kompas, filter, dan penggerak di saat teknologi berubah cepat dan informasi semakin melimpah.
“Semakin canggih kapalnya, semakin penting kompasnya,” tegas Prof. Anton melalui analoginya.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya kader IMM untuk menginternalisasi Trilogi IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas guna menjawab krisis spiritual, krisis pengetahuan, dan krisis kemanusiaan.
Untuk menghadapi era disrupsi, langkah perkaderan di tubuh IMM dituntut harus progresif dan adaptif. Prof. Anton, yang juga memiliki moto keseharian “ngaji, neliti, lan lari“, mengingatkan bahwa kader harus menguasai keterampilan Abad ke-21 atau kerangka 4C (Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity). Tidak hanya itu, penguasaan kemampuan literasi kecerdasan buatan (AI Literacy) juga menjadi keharusan agar kader mampu memimpin perubahan.
Melalui kegiatan ini, IMM FTI UAD berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis dan melek teknologi, tetapi juga memiliki adab, arah juang yang jelas, dan siap bertransformasi menjadi penggerak peradaban di tengah masyarakat. (Ito)
