Mahasiswa UAD Raih Juara I Lomba Baca Puisi Dahlan Culture Festival 2026

Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) raih juara I lomba baca puisi Dahlan Culture Festival 2026 (Foto. Afra).jpg
Bakat dan ketekunan kembali mengantarkan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) meraih prestasi membanggakan. Afra Husnayain Al Gholiyah, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2024, berhasil meraih Juara I Lomba Baca Puisi dalam ajang Dahlan Culture Festival 2026 yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh kader aktif Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Keberhasilan tersebut disambut Afra dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam. Baginya, penghargaan tersebut menjadi buah dari proses panjang sekaligus motivasi untuk terus berkarya di dunia seni sastra.
Dalam kompetisi tersebut, Afra membawakan puisi berjudul Sebuah Jaket Berlumur Darah karya penyair Taufiq Ismail. Puisi tersebut mengangkat tema perjuangan dan perlawanan terhadap penindasan, sekaligus menyuarakan semangat untuk membela kebenaran serta melanjutkan perjuangan para pahlawan. “Puisi ini mengajak kita untuk tidak tunduk pada tirani dan terus menjaga semangat perjuangan. Pesan itu yang ingin saya sampaikan kepada penonton melalui pembacaan puisi,” jelasnya.
Meski waktu persiapan terbilang singkat, sekitar satu minggu, Afra mampu memaksimalkan proses latihan berbekal pengalaman membaca puisi yang telah ditekuninya sejak sekolah dasar. Selama masa persiapan, ia lebih banyak melakukan bedah naskah untuk memahami makna setiap bait, melatih intonasi, serta mengatur tempo pernapasan agar pesan puisi dapat tersampaikan secara utuh. “Saya meluangkan waktu setiap hari untuk memahami isi puisi, melatih intonasi, dan mengatur napas supaya penjiwaan saat tampil bisa maksimal,” tuturnya.
Menurut Afra, tantangan terbesar yang dihadapi bukan terletak pada teknik membaca, melainkan mengendalikan emosi. Ia mengaku selalu larut dalam makna puisi yang dibawakan hingga kerap meneteskan air mata saat tampil.
“Saya sudah terbiasa sangat menghayati puisi yang saya baca, bahkan sering menangis. Tantangannya adalah mengontrol emosi agar suara tidak terlalu bergetar dan artikulasi tetap jelas. Saya mengatasinya dengan mengatur jeda napas di beberapa bait transisi sehingga emosi tetap tersampaikan tanpa mengganggu teknik vokal,” ungkapnya.
Bagi Afra, kekuatan utama yang mengantarkannya meraih Juara I adalah totalitas dalam menghidupkan setiap bait puisi. Kejujuran rasa yang ia tampilkan membuat penampilannya terasa lebih hidup dan mampu menyentuh hati dewan juri maupun penonton. “Saya merasa kekuatan utamanya ada pada penghayatan. Ketika benar-benar melebur dengan kepedihan dan semangat perjuangan dalam puisi tersebut, air mata mengalir secara alami. Mungkin kejujuran rasa itulah yang membuat penampilan saya lebih hidup,” katanya.
Prestasi tersebut semakin mengukuhkan komitmen Afra untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang seni sastra. Ia berpesan, “Untuk teman-teman mahasiswa UAD, jangan pernah ragu mengekspresikan diri melalui seni. Seni adalah tentang rasa, jadi sampaikanlah dengan hati. Teruslah berlatih, berani tampil, dan jadikan setiap panggung sebagai tempat belajar serta mencari pengalaman,” pesannya. (Mawar)
