Memperkuat Strategi Reframing Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi

Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, S.Pd., M.Pd.Si. Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menambah jajaran profesornya melalui pengukuhan Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, S.Pd., M.Pd.Si. sebagai Guru Besar dalam Ranting Ilmu/Kepakaran Evaluasi Pembelajaran Fisika pada Sabtu, 18 April 2026, di Ruang Amphitarium Gedung Utama Kampus IV UAD.
Dalam pidato orasi ilmiah berjudul “Reframing Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi”, Prof. Dian Artha menekankan bahwa tantangan Revolusi Industri 4.0 dan digitalisasi menuntut kurikulum universitas untuk mengintegrasikan penguasaan ilmu dengan kompetensi global serta literasi digital.
Strategi yang ditawarkan dalam orasi ilmiah tersebut fokus pada empat pilar utama kualitas pembelajaran fisika masa depan, yakni minimalisasi miskonsepsi melalui optimasi pengetahuan konten, penerapan pendekatan Content and Language Integrated Learning (CLIL) untuk memenuhi kebutuhan global, serta penguatan Subject Spesifik Pedagogy (SSP) pada pendidikan profesi.
Prof. Dian Artha memfasilitasi struktur kompetensi berlapis yang dimulai dari jenjang S1 dengan empat fase krusial yaitu fase fondasi, integrasi inti, integritas, dan profesi pendidikan. Secara filosofis, model ini memandang pendidikan sebagai proses humanisasi dan transformasi intelektual, sementara secara epistemologis, fisika ditempatkan sebagai bangunan pengetahuan yang koheren melalui pilar konseptualitas, empirisme terkontrol, serta modelisasi.
Karakter guru fisika unggul yang ingin dibentuk melalui model ini meliputi integritas akademik, kepekaan pada bukti empiris, keteguhan pada rasionalitas ilmiah, serta kemampuan berpikir sistematis.
Gagasan ini juga terinspirasi dengan nilai-nilai Islam berkemajuan yang menekankan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal untuk membangun pendidikan yang mencerahkan dan berkontribusi terhadap peradaban.
Menutup pidatonya, Prof. Dian menyampaikan bahwa pencapaian jabatan akademik tertinggi ini merupakan hasil perjalanan panjang sejak ia memulai karir sebagai dosen pada tahun 2005. “Tentunya di perjalanan yang panjang ini, saya tidak menempuh seorang diri, ada banyak pihak yang telah berkontribusi memberi dukungan, kepercayaan serta kesempatan untuk terus belajar,” pungkasnya. (Mei)
