Pentingnya Continuous Improvement dan Sikap Keep Learning bagi Lulusan Informatika

Kuliah umum Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Septia)
Kesenjangan antara kurikulum akademis di perguruan tinggi dengan kebutuhan realita di dunia kerja (industri) masih menjadi tantangan besar. Menjawab persoalan tersebut, Dr. Ir. Arif Rahman Hakim, S.T., M.T., M.M., I.P.U., membedah materi mendalam mengenai strategi esensial yang wajib dimiliki oleh mahasiswa informatika dan teknologi agar memiliki daya saing tinggi saat lulus nanti. Materi tersebut disampaikan pada kuliah umum yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Menurut Dr. Arif, dunia industri saat ini bergerak sangat cepat ke arah digitalisasi, otomasi, dan efisiensi sistem. Sebagai contoh, industri manufaktur dan hilirisasi kini masif mengadopsi produk konsumen berbasis komputasi cerdas, seperti pengontrol elektronik pada pendingin ruangan (air conditioner), oven pintar, hingga sistem telematics untuk pelacakan kontainer logistik. Oleh karena itu, penguasaan kemampuan komputasi dan kontrol elektronik menjadi modal teknis primer yang sangat dicari oleh perusahaan.
Di samping kemampuan teknis (hard skills), kunci utama untuk bertahan dan berkembang di industri terletak pada fondasi mental berupa perilaku terus belajar (keep learning). Dunia kerja dipenuhi oleh ketidakpastian dan teknologi yang terus diperbarui, sehingga lulusan baru tidak boleh malu untuk mencari tahu, berdiskusi dengan rekan kerja senior, memanfaatkan mesin pencari Google, hingga mengeksplorasi kecerdasan buatan demi menemukan solusi atas kendala operasional di lapangan.
Selain itu, aspek penting lainnya adalah penerapan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Karyawan yang bernilai tinggi di mata perusahaan adalah mereka yang tidak sekadar bekerja secara monoton, melainkan aktif memberikan gagasan perbaikan. Melalui komunikasi yang baik dengan jajaran manajemen serta eksekusi solusi digitalisasi, seorang pekerja akan mampu memberikan dampak efisiensi yang signifikan bagi operasional perusahaan hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Lebih lanjut, dalam materi diskusi interaktif mengenai penempatan kerja di wilayah industri strategis seperti Batam atau Bandung, Dr. Arif mengingatkan agar lulusan baru fokus membangun kompetensi dan unjuk kinerja terlebih dahulu pada fase awal kerja. Ketika kualitas kerja dan kontribusi nyata (improvement) telah terlihat secara nyata, posisi tawar individu tersebut secara otomatis akan meningkat secara linier di mata manajemen korporasi. (Septia)
