Perbedaan Awal Ramadan dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal

Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag., Penceramah Tarawih RDK 1447 H Universitas Ahmad Dahlan (Foto. Mawar)
Kamis, 26 Februari 2026, dalam rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. H. Oman Fathurrahman, M.Ag., menyampaikan ceramah Tarawih yang membahas perbedaan awal Ramadan serta urgensi penyatuan kalender Hijriah global. Dalam tausiah tersebut, ia mengajak jemaah untuk memahami perbedaan penentuan awal puasa secara ilmiah dan proporsional.
Mengawali ceramahnya, ia mengajak jemaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini. Hingga malam itu, sebagian jemaah telah menyelesaikan sembilan hari puasa, sementara sebagian lainnya baru delapan hari karena memulai Ramadan pada hari yang berbeda, yakni Rabu, 18 Februari 2026, dan Kamis, 19 Februari 2026.
Menurutnya, perbedaan tersebut kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Padahal, secara sistem waktu, hari yang kita miliki sama, yakni hasil dari rotasi bumi pada porosnya yang membentuk siklus 24 jam. Hari-hari yang berulang dari Ahad hingga Sabtu kemudian diberi penanda angka dan nama bulan agar tidak tertukar. Sistem ini dikenal sebagai kalender syamsiah (matahari).
Namun, persoalan muncul ketika umat Islam menggunakan sistem kalender qamariah (bulan) untuk kepentingan ibadah, seperti penentuan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Dalam sistem ini, awal bulan ditentukan berdasarkan peredaran bulan, sehingga potensi perbedaan semakin besar.
Dr. Oman menjelaskan bahwa perbedaan awal Ramadan tahun ini juga terjadi di berbagai negara. Berdasarkan data yang beliau paparkan, terdapat negara-negara yang memulai puasa pada 18 Februari 2026, seperti Afghanistan, Bahrain, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan lainnya. Sementara itu, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, dan Turki memulai puasa pada 19 Februari 2026.
Beliau menyoroti fenomena menarik, yakni Arab Saudi yang secara geografis berada di sebelah barat Indonesia justru memulai Ramadan lebih dahulu. Hal ini dapat dipahami melalui pendekatan ilmu astronomi. Dalam sistem kalender qamariah, posisi dan visibilitas hilal sangat dipengaruhi oleh perbedaan lokasi geografis. Semakin ke barat suatu wilayah, semakin besar peluang hilal terlihat karena posisi bulan relatif lebih tinggi saat matahari terbenam.
Ia menjelaskan bahwa bulan, seperti matahari, terbit di timur dan terbenam di barat. Namun, setiap hari bulan terbenam lebih lambat dibandingkan matahari. Perbedaan waktu terbenam ini semakin besar di wilayah yang lebih barat, sehingga kemungkinan terlihatnya hilal lebih tinggi dibandingkan wilayah timur.
Menurutnya, salah satu penyebab utama perbedaan awal bulan qamariah adalah penggunaan ufuk atau horizon setempat dalam penentuan hilal. Setiap negara atau kawasan menggunakan kriteria masing-masing berdasarkan lokasi geografisnya. Akibatnya, tanggal 1 Ramadan bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Sebagai solusi jangka panjang, beliau menekankan pentingnya upaya mewujudkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni sistem kalender yang menetapkan satu tanggal untuk satu hari yang sama di seluruh dunia. Bukan berarti momen pergantian hari terjadi serentak secara waktu, tetapi tanggalnya sama pada hari yang sama secara global, sebagaimana yang berlaku dalam kalender Masehi.
Ia menegaskan bahwa upaya penyatuan kalender ini bukan hanya dilakukan oleh satu organisasi, melainkan melibatkan banyak tokoh dan negara di dunia Islam. Meski secara konsep sudah memungkinkan dan layak diterapkan, implementasinya masih menghadapi tantangan karena perbedaan pendekatan dan kesiapan masing-masing pihak.
Di akhir ceramahnya, Dr. Oman berharap agar ke depan umat Islam di seluruh dunia dapat menggunakan satu sistem kalender Hijriah yang sama, sehingga persatuan umat semakin kuat, terutama dalam momentum-momentum penting seperti Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. (Mawar)
