UAD Tuan Rumah Seminar Nasional FPPTI DIY

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tuan rumah seminar nasional FPPTI DIY (Foto. Humas UAD)
Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Seminar Nasional dengan tema Knowledge for Sustainability: Peran Perpustakaan dalam Mendukung SDGs dan IKU Unggul pada Rabu, 8 Juli 2026, di Ruang Audio Visual Lantai 4 Museum Muhammadiyah, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kegiatan ini merupakan bagian dari pelantikan Pengurus FPPTI DIY Periode 2026 –2029.
Seminar ini menghadirkan dua pakar sebagai narasumber, yaitu Dr. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., S.S., M.Si. dan Dr. Caraka Putra Bhakti, S.Pd., M.Pd. dengan moderator Sri Astuti, S.I.P., M.I.P.
Seminar ini membahas terkait peran perpustakaan perguruan tinggi agar tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan informasi, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan yang mampu mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, Dr. Caraka Putra Bhakti, S.Pd, M.Pd. menyampaikan bahwa melimpahnya arus informasi dapat memengaruhi cara berpikir generasi muda, terutama generasi Z dan Alpha. Sajian informasi di media sosial dalam durasi pendek berpotensi membentuk fixed mindset. Pola pikir ini seperti ini membuat seseorang membatasi kemampuannya dan menganggap dirinya tidak mampu menghadapi tantangan-tantangan baru.
“Anak-anak kita 71 persen itu dalam kondisi fixed mindset. Kalau sudah disebutkan dia enggak bisa, maka berpikirnya, ‘Aku selalu enggak bisa’,” ungkapnya.
Kemudian beliau juga mengungkapkan bahwa persoalan seperti overthinking, insecure, hingga krisis kesehatan mental disebabkan oleh pikiran dirinya sendiri. Oleh karena itu, perpustakaan perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam membangun budaya literasi dan menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong terbentuknya growth mindset. Beliau juga mendorong penggunaan afirmasi positif dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kerja.
“Kita bisa terapkan cara-cara kita memotivasi antar teman dan pimpinan menggunakan pendekatan hamburger ya. Jadi diawali apresiasi, tengah dikoreksi, kemudian apresiasi lagi,” ujarnya.
Dalam sesinya, Dr. Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag., S.S., M.Si., memaparkan konsep mapping IKU sebagai upaya menyelaraskan program perpustakaan dengan target kinerja perguruan tinggi. Menurutnya, setiap layanan perpustakaan perlu dipetakan agar memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian 12 IKU, mulai dari peningkatan kualitas lulusan, prestasi mahasiswa, rekognisi dosen, publikasi ilmiah, hingga implementasi SDGs.
Beliau mencontohkan bahwa perpustakaan dapat mendukung IKU melalui penyediaan layanan pendampingan penulisan tugas akhir dan artikel ilmiah, akses jurnal internasional, pengelolaan repositori institusi, layanan literasi informasi, serta pengembangan konsep green library. Dengan demikian, perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai unit yang bekerja secara terpisah, tetapi menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas perguruan tinggi.
“Ketika kembali ke perpustakaan masing-masing, Ibu Bapak bisa menyampaikan bahwa perpustakaan sudah bersinergi dengan IKU, tidak lagi berjalan sendiri seperti peran perpustakaan pada masa lalu,” jelasnya.
Ia juga merekomendasikan agar perpustakaan dimasukkan secara eksplisit dalam Rencana Strategis (Renstra) perguruan tinggi, diberi mandat sebagai knowledge hub, serta menyelaraskan indikator kinerja perpustakaan dengan IKU, akreditasi, dan SDGs. (Mei)
